Tuesday, August 13, 2013

Kamu Tak Sendirian



namanya adalah Nicko,seorang lelaki yang tidak peduli dengan apapun disekitarnya, dia adalah seorang yang cuek dan acuh tak acuh terhadap sesama. Namun, banyak teman-temannya di kampus yang mencari dia, ya walaupun dia cuek dan acuh tak acuh, Nicko adalah laki-laki yang pintar dan jago dalam olahraga basket dan sepakbola, sehingga tidak jarang dia dipanggil untuk mewakili kampusnya dalam berbagai jenis kegiatan mulai dari yang menggunakan akal hingga yang memacu stamina. Walaupun teman-temannya tidak suka dengan sikap Nicko, mau tidak mau mereka tetap membutuhkan kemampuan dan kepandaian yang dimilikinya. Banyak laki-laki yang ingin menjadi seperti dia, akan tetapi dibalik itu semua tidak ada yang tahu bahwa Nicko sebenarnya memiliki masa lalu yang begitu kelam yang akhirnya membentuk dia untuk menjadi seseorang yang cuek dan acuh tak acuh, bahkan di satu titik tertentu Nicko merasa bahwa dia hanya hidup sendirian dalam dunia ini, maka dari itu semua yang dia perbuat adalah murni untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan teman-temannya.

Nicko, adalah anak pertama dari keluarga kaya raya semua yang ia butuhkan pasti akan segera didapat walaupun pada waktu itu dia belum mengerti apapun. Pada usia 3th dia mendapatkan seorang adik perempuan yang akhirnya diberi nama Niki. Sejak kelahiran adiknya hidup Nicko perlahan-lahan berubah, bukan karena orang tuanya lebih menyanyangi sang adik. Akan tetapi, tepat ketika Nicko menginjak usia 8th, ia menyaksikan sebuah kejadian yang seharusnya tidak boleh disaksikan oleh anak seumurannya karena belum saatnya dan dia tidak akan mengerti masalah apa itu. Nicko kecil yang kebingungan hanya terdiam dalam ketakutan ketika melihat ibunya berteriak sambil membentak ayahnya melalui telepon yang ada di lantai 1 rumahnya. Itulah awal masalah yang akhirnya membentuk Nicko menjadi seorang anak yang cuek dan acuh tak acuh pada lingkungan sekitar.

"Nicko tunggu sebentar....!" salah seorang teman kampusnya berlari mendekati ketika Nicko hendak pulang dari kampus dengan mengendarai motor sportnya. Teman Nicko yang bernama Andi berusaha untuk mengumpulkan nafasnya kembali setelah akhirnya berhasil menahan Nicko untuk tidak pergi dulu dari kampus. Andi telah mengejar Nicko ketika ia melihat Nicko keluar dari ruang kelasnya yang berada di lantai 1 dan langsung berlari dari ruang kelasanya yang terletak di lantai 2. Hal itu ia lakukan karena kesempatan untuk bertemu Nicko hanyalah dikampus, ia tidak akan pernah memberikan nomor telepon genggam atau alamat rumahnya pada siapapun. "Ada perlu apa?" tanya Nicko dengan tatapan yang dingin, masih berusaha mengumpulkan nafasnya dan sambil ngos-ngosan Andi menjawab, "Minggu depan kampus kita akan bertanding sepakbola melawan kampus Kancil yang telah dari dulu menjadi rival abadi kita, dan rektor meminta kamu untuk bermain sebagai kapten tim". Mendengar jawaban demikian, Nicko hanya berdiri diam dan tersenyum sinis lalu beranjak pergi dengan sepeda motornya. Nicko tidak menjawab sama sekali pertanyaan dari Andi, namun senyum dari Nicko telah membuat Andi mengerti bahwa Nicko akan bermain dalam pertandingan minggu depan, hal ini terjadi karena ini bukan yang pertama kalinya Andi memanggil Nicko kedalam tim sepak bola dan Andi sama sekali tidak kesal dengan tingkah laku Nicko, karena Andi beranggapan bahwa setiap orang mempunyai sifat unik yang berbeda-beda.

Memasuki umur 11th, Nicko melihat lagi ibunya sambil menangis membentak-bentak ayahnya, bedanya kali ini tidak dilakukan melalui telepon akan tetapi kedua orang tua Nicko benar-benar saling membentak di depan matanya sendiri. Ia mendengarkan semua makian yang meluncur dari mulut ayah dan ibunya bahkan beberapa kali ia mendengar ayahnya memukul meja atau menghantam tembok rumah mereka. Nicko yang belum mengerti kenapa orang tuanya bisa bertengkar begitu hebat hanya bisa bersembunyi dikamarnya sambil menangis berharap semua itu akan berakhir.Yang tidak Nicko kecil pahami ialah itu baru permulaan dari keributan ayah dan ibunya.

Nicko terus tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat dan tidak ada kasih sayang sama sekali didalamnya, ayahnya menjadi semakin jarang pulang kerumah dan ibunya berubah menjadi seorang yang tempramental. Memasuki usianya yang ke 18th, Nicko mulai paham apa yang selama ini orang tuanya ributkan. Ayahnya ternyata berselingkuh yang akhirnya ayahnya memiliki anak lagi dari selingkuhannya itu, ibu Nicko semakin tidak terima dan akhirnya keributan yang dulu ingin dilupakan oleh Nicko terjadi lagi dengan lebih dahsyatnya, kali ini bukan hanya bunyi makian-makian kasar atau gebrakan meja serta hantaman dinding yang dia dengar, tetapi dia mendengar piring dan gelas yang hancur berkeping-keping dan beberapa pukulan sampai akhirnya dia keluar kamar dan melihat ayah dan ibunya telah saling pukul. Saat itulah hidup Nicko mulai benar-benar berubah, dia mulai berpikir bahwa tidak ada yang namanya keluarga di dunia ini, semua orang hanya sibuk dengan hidup mereka masing-masing, bahkan dua orang yang sangat ia kagumi sejak kecil berubah drastis menjadi sosok monster yang egois dan tidak pernah memikirkan dia sama sekali. Sejak saat itu Nicko berubah menjadi anak yang cuek, acuh tak acuh dan tidak mempercayai siapapun. Dia hanya hidup dalam dunianya sendiri yang baginya dunia itu adalah dunia yang damai dan jauh dari orang-orang egois yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dia bahkan menciptakan slogan sendiri yang berbunyi "orang lain boleh bergantung pada saya, tetapi sya tidak boleh bergantung pada siapapun" dia bahkan menulis tulisan "aku benci semua orang" di dinding kamar tidurnya.

Satu minggu telah berlalu dan hari yang ditunggu pun tiba dimana kampus Nicko yang bernama kampus Ozora akan melawan kampus Kancil dalam pertandingan sepakbola. Pertandingan yang sangat ditunggu oleh semua mahasiswa di kota tersebut, karena semua mahasiswa yang belajar di kota tersebut pasti akan segera mendengar nama kampus Ozora dan kampus Kancil yang telah menjadi rival dalam hal olahraga sejak 5th yang lalu. Tepat pukul 15.00, para pemain mulai memasuki lapangan yang ada di tengah kota mereka, dari kampus Ozora nampak Nicko dengan angkuhnya muncul berjalan dibaris terdepan sebagai kapten dan diikuti oleh Andi dan rekan-rekannya yang lain. Setelah semua pemain bersalaman  dan mengambil posisinya masing-masing peluit pun dibunyikan. Pertandingan berjalan begitu sengit tim yang dipimpin Nicko langsung menyerang dan tentu Nicko ditempatkan sebagai penyerang tunggal karena semua telah tahu gaya bermain Nicko yang tidak akan pernah mau mengoper bola pada rekannya, pada menit ke-20 Nicko telah berhasil merobek gawang lawannya dengan tendangan yang sangat keras dari arah kanan, kiper dari kampus Kancil bahkan tidak sempat bergerak karena tendangan Nicko yang begitu cepat dan akurat. Peluit panjang tiba-tiba berbunyi memberi sinyal bahwa pertandingan babak pertama telah usai dengan keunggulan 1 untuk kampus Ozora dan 0 untuk kampus Kancil. Saat istirahat berlangsung pelatih dari tim Kancil yang telah mengetahui pola permainan tim ozora yang selalu memberikan bola kepada Nicko memberikan arahan kepada 2 anak asuhnya untuk terus mengikuti Nicko dan jangan sampai lolos bagaimanapun caranya.

Waktu istirahat akhirnya selesai dan peluit pertandingan babak kedua akhirnya berbunyi, dan seperti dugaan dari pelatih tim Kancil, bola selalu diberikan kepada Nicko, akan tetapi kali ini Nicko tidak dapat bergerak dengan bebas, dia selalu dijaga ketat oleh dua pemain belakang lawan. Akhirnya pada menit ke-80 Nicko memaksa untuk menerobos penjagaan lawannya yang akhirnya harus membuat pemain lawan terpaksa melakukan pelanggaran yang cukup keras untuk menghentikannya. Pergelangan kaki kiri Nicko terkilir dan mebuat dia tidak bisa lagi melanjutkan permainan. Nicko akhirnya ditandu keluar dari lapangan dan tim Ozora mendapatkan hadiah tendangan pinalti yang akhirnya dapat diselesaikan dengan baik oleh Andi yang menggantikan Nicko sebagai kapten tim. Pertandingan akhirnya selesai dengan kemengan atas kampus Ozora 2 dan kampus Kacil 0. Setelah pertandingan usai, Andi teringat dengan Nicko dan segera mencarinya akan tetapi dia tidak bisa menemukan Nicko sama sekali di bangku cadangan. Ia bergegas menuju ruang ganti dan mendapati Nicko sedang meringis kesakitan menahan sakit dari cidera yang dia alami, Andi terkejut melihat pergelangan kaki kiri Nicko yang bengkak dan membiru serta mengeluarkan sedikit darah yang berwarna merah gelap. Andi segera mendekati Nicko untuk memberikan pertolongan dan membawa ia ke dokter. Namun, Nicko menolak karena merasa dia tidak mebutuhkan bantuan Andi untuk pergi ke dokter sendiri, namun kali ini dia tidak bisa lagi melawan kehendak Tuhan. Nicko baru saja berdiri dan berjalan 5 langkah lalu tiba-tiba ia terjatuh kembali karena kakinya yang terlalu sakit dan mau tidak mau dia harus menerima tawaran Andi untuk mengantar dia ke dokter dengan mobilnya.

Selama perjalanan, terjadi pergolakan batin yang sagat luar biasa. Dia bingung, tidak mengerti, sedih serta semua perasaan lain bercampur aduk menjadi satu. Dia bingung dengan sikap Andi yang begitu baik padanya, padahal selama ini dalam pikirannya semua orang selalu mementingkan dirinya sendiri dan selalu egois, akan tetapi kenapa Andi yang baru sebentar dikenal olehnya mau menolognya? Bahkan orang tuanya sendiripun tidak peduli dengan apa yang terjadi pada hidupnya, lalu kenapa ada seorang Andi yang dirasa bukan siapa-siapa mau peduli kepadanya? Dia semakin bingung dan akhirnya meneteskan air matanya. Andi yang melihat Nicko menangis disebelahnya akhrinya bertanya kepada Nicko sambil terus menyetir. Setelah diam beberapa saat untuk mengatur emosinya Nicko akhirnya bertanya kepada Andi "kenapa kamu yang baru sebentar mengenalku mau mengantarku ke rumah skit?" Dengan tersenyum dan santai Andi menjawab "bukankah itu hal yang wajar ketika kita melihat salah seorang anggota keluarga kita yang sakit kita lalu menolongnya?" Mendengar jawaban Nicko yang sedemikian rupa Andi semakin bingung dan tidak mengerti, timbul pergolakan kembali dalam dirinya "kenapa Andi yang baru dikenalnya sebentar telah memanggilanya keluarga? Bahkan ayah dan ibunya yang telah bersama-sama berpuluh-puluh tahun tidak mau untuk saling menolong dan saling mengerti, lalu kenapa Andi yang baru dikenalnya mau menolong dia bahkan menyebut dirinya adalah anggota keluarganya?" akhirnya Nicko memberanikan diri dan bertanya "apa yang kamu maksud dengan menyebutku anggota keluargamu?" Andi kembali menoleh melihat Nicko sesaat dan tersenyum lalu melihat kedepan lagi untuk menyetir mobil dan menjawab "aku telah menganggap kamu bagian dari keluarga sepak bola kampus Ozora sejak kau pertama kali diperkenalkan oleh pelatih. Semua orang dalam tim sepakbola menganggap kamu adalah bagian dari keluarga ini, mulai dari pelatih, aku dan yang lain menganggap kamu adalah bagian dari keluarga sepakbola kampus Ozora sejak pertama kali kamu bermain sebagai pemain panggilan dari luar tim. Aku bahkan mendapat tugas khusus dari pelatih untuk memaksamu masuk menjadi pemain inti dari tim kami. Jadi menurutku hal yang aku lakukan ini adalah hal yang sangat biasa, hal yang wajar bukan untuk menolong sesama anggota keluarga ketika salah satu anggota keluarga tersebut ada yang terluka dan membutuhkan bantuan?" Jawab Andi dengan santai sambil menoleh dan tersenyum pada Nicko. Andi tidak tahu bahwa jawaban itu membuat Nicko sangat terharu dan mulai menangis lagi. Semua masa lalu Nicko yang kelam mulai hancur satu persatu, ia mulai melihat ada setitik cahaya dalam hatinya dan mulai memahami bahwa ia sebenarnya tidak sendirian dalam hidup ini dan keluarga tidak harus didapatkan dalam rumah mu sendiri, kamu dapat menemukan dan merasakan makna "keluarga"dimanapun kamu berada selama kamu mau membuka hatimu dan menerima uluran tangan orang lain yang benar-benar tulus menolongmu.


"kamu tidak sendirian di dunia ini, pasti akan ada orang yang selalu rela membantumu diamana pun dirimu berada, maka dari itu jangan selalu merasa bahwa engkau sendirian"


Dart_leonhart

No comments:

Post a Comment